70 Persen Sampah Organik, Timbunan Sampah di Tomohon Capai ±51,6 Ton per Hari
KOTATOMOHON.COM – Workshop Zero Waste Lifestyle for Tomohon City, Selasa 24 Februari 2026 dilaksanakan di Command Center Pemerintah Kota Tomohon dengan narasumber Mr Sovanarith Sieng selaku Urbant Development Expert dan Local Project Officer Indonesia Mula Pralampita Nursetianti dari UN-HABITAT.
Wali Kota Tomohon Caroll Senduk SH dalam kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa Proyek ASUS Tahap II (Accelerating The Implementation of The ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy Phase II) merupakan kelanjutan dan penguatan dari Tahap I yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip dasar strategi urbanisasi berkelanjutan ASEAN.
Inisiatif ini dirancang untuk mendukung implementasi langsung dari ASEAN Sustanaible Urbanisation Strategy (ASUS) khususnya di kota-kota sekunder dan menengah seperti Kota Tomohon. Proyek ASUS disusun sebagai bagian dari tindak lanjut atas Master Plan on ASEAN Connectivity 2025 yang diluncurkan sejak tahun 2018 untuk menjawab tantangan nyata urbanisasi di kawasan Asia Tenggara.
“Kita semua menyadari tantangan urbanisasi di zaman sekarang ini tidaklah ringan. Di tengah pertumbuhan populasi yang pesat, perubahan iklim yang kian nyata dan tekanan terhadap sumber daya alam, kota-kota kita dihadapkan pada tanggung jawab yang semakin kompleks,” ujar wali kota.
Diantara tantangan-tantangan tersebut, pengelolaan sampah, sanitasi dan air bersih menempati posisi yang sangat mendesak serta menjadi perhatian utama di Kota Tomohon. Pengelolaan sampah dan limbah serta kebutuhan akan air bersih tak terelakan dari kehidupan perkotaan modern. Namun apabila tidak di tangani secara sistematis dan berkelanjutan itu akan menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan hidup dan ketahanan kota secara keseluruhan.
Kota-kota di ASEAN, termasuk Kota Tomohon masih menghadapi berbagai kendala mulai dari keterbatasan infrastruktur pengelolahan sampah, rendahnya tingkat daur ulang, kesenjangan akses terhadap sanitasi yang aman serta akses terhadap air bersih. Sebagai salah satu kota yang terpilih untuk berpartisipasi dalam program ASUS ini, dimana Kota Tomohon telah mengikuti ASEAN Sustainable Urbanisation Forum (ASUF) yang dilaksanakan di Kuala Lumpur pada Agustus 2025 lalu, telah menetapkan fokus utama pada bidang pengelolaan sampah dalam upaya mendukung Program Nasional Indonesia Bebas Sampah 2029.
“Tentunya hal ini menjadi tantangan kita bersama untuk bekerja bersama bahu-membahu dengan semua stakeholder dalam membiasakan gaya hidup masyarakat yang bersih, sehat dan tangguh dalam menghadapi tantangan lingkungan perkotaan. Selanjutnya, dalam ASUS Tahap II ini, Kota Tomohon akan berpartisipasi dalam penyelesaian City Technical Proposal dengan memvalidasi City Diagnostic Report dan bersama-sama pemangku kepentingan menganalisis visi kota yang terkait dengan area tematik melalui proses kolaboratif yang akan merumuskan visi dan arah untuk City Technical Proposal,” lanjut Senduk.
Pengelolaan sampah Kota Tomohon saat ini masih terpusat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Taratara dengan luas 5,3 Hektar. Meskipun dirancang sebagai sanitary landfill, praktik di lapangan berupa open dumping dan Instalasi Pengelolahan Lindi (IPL) belum berfungsi optimal. Kemampuan SDM dan pemahaman masyarakat dalam pemanfaatan bank sampah induk sangat diperlukan untuk kesinambungan program ini.
Potensi terbesar timbunan sampah terletak pada sampah organik yang belum terkelola secara optimal. Timbunan sampah ±51,6 ton/hari dengan persentasi 70 persen sampah organik sehingga pemerintah terus berupaya untuk mempertajam pelaksanaan pengolahan sampah diantaranya melalui program PPSOT, memperluas Integrated Farming (yang saat ini sementara dilaksanakan di Kelurahan Kakaskasen) dan Community Composting (sebagai pilot project dilaksanakan di Kelurahan Taratara Raya) diharapakan dapat berjalan di seluruh kelurahan Kota Tomohon.
Adapun permasalahan utama yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Tomohon adalah masih kurangnya koordinasi lintas sektor, perangkat daerah dan komunitas belum terhubung secara sistematis, landasan kebijakan formal perlu diformulasikan dengan baik agar pengelolaan sampah dapat terintegrasi, pembangunan data persampahan belum terpadu dan belum valid untuk kepentingan perencanaan, upaya menghubungkan potensi inovasi dan best practice di masyarakat belum terhubung dengan sistem forma serta ketersediaan anggaran yang belum sepenuhnya memadai.
“Mencermati berbagai hal ini, saya berharap workshop ini dapat menghasilkan rekomendasi yang konkret pada proyek ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) dan dapat segera diimplementasikan untuk meningkatkan pengelolaan sampah di Kota Tomohon. Juga berharap kita dapat bekerja sama untuk menciptakan Kota Tomohon yang bersih, hijau dan sehat melalui program-program pengelolaan sampah yang berkesinambungan,” tukasnya saat hadir didampingi Wakil Wali Kota Sendy Rumajar SE MIKom.


